Mastitis adalah peradangan pada payudara yang dapat disebabkan karena tersumbatnya saluran ASI (Mastitis Non-Infeksi) atau disebabkan karena infeksi bakteri (Mastitis Infeksi). Mastitis disebabkan karena pengosongan payudara tidak optimal, adanya saluran ASI yang tersumbat, puting lecet, dan perlekatan mulut bayi yang kurang baik pada saat menyusui (dapat dikarenakan bayi menggunakan dot/empeng atau bayi tongue tie). Ibu menyusui tetap disarankan untuk terus menyusui Karena dapat membantu mengeluarkan ASI yang stasis dan mengosongkan saluran ASI yang tersumbat, meringankan gejala mastitis, dan mencegah mastitis menjadi lebih parah.

Mastitis umumnya terjadi pada ibu menyusui (usia bayi 0-6 bulan) namun dapat terjadi sampai bayi usia 2 tahun. Langkah tepat menangani mastitis antara lain:

  1. Memastikan bra yang dipakai tidak berkawat dan tidak ketat
  2. Istirahat yang cukup
  3. Rileks pada saat menyusui, terutama posisi kaki, punggung, lengan,bahu dan leher harus nyaman
  4. Ubah-ubah posisi menyusui
  5. Pijat payudara perlahan-lahan dan arahkan pijatan payudara menuju puting lalu perah payudara dengan tangan
  6. Susui bayi sesering mungkin, bila bayi tidak mau menyusu dapat diperah dengan tangan
  7. Kompres hangat sebelum memulai menyusui atau memerah payudara dengan tangan
  8. Kompres dingin setelah menyusui atau setelah memerah payudara dengan tangan
  9. Segera mengunjungi konselor/konsultan laktasi untuk membantu cara memposisikan bayi dan menilai perlekatan mulut bayi
  10. Menemui dokter bila gejala semakin serius untuk mendapatkan terapi antibiotik

Untuk mencegah mastitis, lakukan langkah-langkah berikut:

  1. Pelajari posisi dan perlekatan menyusui yang baik
  2. Apabila bayi tongue-tied segera kunjungi konselor/konsultan laktasi
  3. Hindari sebisa mungkin lecet pada puting Puting dan areola (bagian hitam disekitar puting), sebaiknya diolesi ASI sebelum dan sesudah menyusui
  4. Hindari penggunaan nipple shield,dot dan empeng (bila ibu tidak bersama bayi, minumkan asi perah dengan cup feeder/soft cup feeder)
  5. Hindari memakai bra kawat dan ketat selama menyusui
  6. Perah rutin payudara (3-4 jam sekali) selama ibu tidak bersama bayi

dr. Aini, Konselor Laktasi RSIA Kemang Medical Care

Proses persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup, dari dalam rahim melalui vagina atau jalan lain ke dunia luar. Proses persalinan kemudian dibagi kedalam dua cara yaitu Persalinan Pervaginam (melalui vagina) dan Persalinan Perabdominal melalui tindakan operasi (Sectio Caesarea).

Persalinan Pervaginam dapat dilakukan secara:

  • Normal, menggunakan tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alat (cunam atau forcep, vakum), atau dengan menggunakan obat.
  • Spontan, dengan menggunakan bantuan alat atau obat
  • Partus Imaturus, untuk usia kehamilan antara 20-28 minggu
  • Partus Prematurus, untuk usia kehamilan antara 28-37 minggu
  • Partus Post Matur/Post Term, lewat waktu, untuk usia kehamilan di atas 41-42 minggu


Persalinan normal memberikan keuntungan secara fisik dan psikis untuk ibu dan bayi antara lain mengurangi resiko trauma dan komplikasi pada ibu dan bayi, proses pemulihan yang lebih cepat, dan pasien dapat merasakan pengalaman sebagai ibu yang lebih lengkap. Secara medis tidak ada kekurangan persalinan normal dibandingkan dengan persalinan dengan cara lain, namun memang ada perbedaan dalam proses persalinan dan pemulihannya.

Faktor utama yang menentukan dapat atau tidaknya persalinan normal dilakukan meliputi "3P", yang terdiri dari:

  1. Power, yang terutama terdiri dari His (kontraksi ritmis otot rahim) dan kekuatan mengejan ibu.
  2. Passage (Panggul), jalan lahir atau panggul ibu. Bentuk dan ukuran tulang panggul berikut sendi-sendinya, serta jaringan lunak pelvis baik otot, jaringan, ligament (penggantung rahim), sangat berperan dalam proses persalinan.
  3. Passanger, keadaan janin, meliputi letak, presentasi (menunjukkan bagian terendah janin dalam rahim seperti kepala, bokong, dan bahu), ukuran/berat janin serta perkembangan janin, maupun ada atau tidaknya kelainan pada janin.


Faktor "P" lain adalah faktor psikologis yang dipengaruhi oleh pengalaman kehamilan pertama, kesiapan sebagai seorang calon ibu, rasa cemas/takut dan nyeri pada proses persalinan. Keseimbangan antara faktor-faktor "P" tersebut dapat memainkan peranan penting dalam berlangsungnya persalinan secara normal.

Ibu yang ingin melahirkan secara normal dapat melakukan persiapan fisik dan psikis dengan melakukan olah raga semasa kehamilan, senam hamil (penguasaan otot-otot, relaksasi, dan pernafasan), prenatal yoga, dan hypnobirthing, maupun aktivitas lain sesuai dengan nasihat dari dokter yang merawat. Keberhasilan persalinan normal juga berakar dari sikap mental ibu, keyakinan bahwa ibu mampu menjalani dan melalui proses melahirkan secara normal, dan percaya bahwa rasa sakit tersebut akan tergantikan dengan kehadiran sang bayi yang sangat dinantikan.

Kepercayaan ibu kepada penolong persalinan dan informasi yang benar untuk mengurangi rasa takut sakit melahirkan juga menentukan keberhasilan proses melahirkan ini.

Apabila ibu memutuskan untuk melakukan persalinan secara normal, dianjurkan untuk melakukan hal-hal berikut:
1. Kumpulkan informasi mengenai dokter-dokter yang cenderung mengutamakan persalinan normal.
2. Berdoa. Karena persalinan adalah proses yang dinamis, dengan outcome yang tidak selalu dapat diprediksi.
3. Siapkan mental. Yakinkan diri Anda bahwa proses persalinan akan berjalan dengan lancar dan cepat.
4. Siapkan fisik Anda selama kehamilan.

dr. Hari P. Rahardjo, SpOG & dr. Priyo Yudhosari, SpOG


Bagi usia  balita dan anak- anak mainan sudah dianggap sebagai kebutuhan. Orang tua sebaiknya pandai memilah mainan yang tidak hanya memenuhi unsur menyenangkan untuk anak, namun bermanfaat untuk menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak. Unsur keamanan juga perlu diperhatikan, antara lain dari jenis bahannya, terbuat dari bahan-bahan yang aman zat kimianya, serta bagian-bagiannya tidak mudah lepas sehingga bisa tertelan oleh anak. Memilih mainan harus selalu disesuaikan dengan tahapan usia perkembangan anak.

Usia 1-3 bulan, bayi akan belajar memfokuskan penglihatan, mengenali ibunya dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, maupun melakukan kontak dan mulai tersenyum sosial. Pada masa ini, penting untuk memberikan stimulasi pada penglihatan anak dengan memberikan mainan  dengan warna terang  berjarak 20-30 cm di depan mata anak. Lakukan kontak sesering mungkin dengan bayi, misalnya dengan sentuhan kulit (membelai/mengusap), mengajak bicara,  menggendong, dan menyusui dengan baik.

Usia 3-6 bulan,  bayi sudah mulai bertambah aktif, dapat berguling dari posisi telungkup ke terlentang. Belajar menggenggam dan meraih benda dalam jangkauannya. Berikan mainan yang dapat di pegang sendiri, pada posisi yang mudah dijangkau oleh bayi.

Usia 6-9 bulan, bayi sudah dapat duduk sendiri, mengamati mainan dalam genggaman dan memindahkannya dari satu tangan ke tangan yang lain. Pada fase ini dapat diberikan mainan, yang dapat di pegang dan dimainkan dalam genggaman. Saat ini bayi mulai belajar berdiri, menyangga sebagian berat badannya dan merangkak, dibutuhkan tempat bermain yang agak luas dengan  alas yang tidak terlalu keras agar bayi dapat merangkak dengan aman. Berikan mainan untuk menarik perhatian bayi agar berusaha menjangkau dengan merangkak maju. Beberapa tonggak dibutuhkan, agar bayi berpegangan untuk mencoba berdiri. Pada masa ini bayi sudah mulai dapat diajak bermain ciluk ba. Usia 9-12 bulan, bayi sudah bisa berdiri sendiri dengan berpegangan, ajaklah bayi berjalan dengan dituntun.

Manfaat permainan dapat mempengaruhi perkembangan unsur motorik kasar dan halus, emosional, fisik, sosial dan pengindaraan. Penting mengetahui dengan pasti fase perkembangan anak sehingga memungkinkan kita memilih permainan dengan cara bermain edukatif. Sehingga stimulasi terhadap perkembangan dapat dilakukan dengan baik. Stimulasi secara dini dan tepat akan membuat perkembangan anak dapat tercapai secara optimal. Permainan edukatif adalah bentuk-bentuk permainan yang memasukkan unsur belajar didalamnya, disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak.  Misalnya bermain mandi bola sambil mengenalkan warna atau menghitung jumlah bola, dan lain-lain.

Bagaimana cara memilih mainan untuk anak yang hiperaktif? Anak yang hiperaktif cenderung tidak dapat mempertahankan konsentrasi dalam waktu yang cukup, sehingga perlu distimulasi agar anak tersebut dapat bekonsentrasi lebih lama. Bermain lego, menyusun puzzle, melukis dapat membantu untuk meningkatkan konsentrasi anak hiperaktif.

Normalnya bayi akan memasuki tahapan perkembangan atau fase oral sehingga sering memasukkan mainan ke dalam mulut, termasuk mainan. Alihkan perhatian anak , diantaranya dengan cara  mengajak bermain ketika anak mulai asyik memasukkan mainan ke dalam mulutnya

Hindari permainan yang tidak memperhatikan usia perkembangan anak. Misalnya pada saat anak belum tegak berdiri, sudah diberikan mainan beroda yang dapat dengan mudah terdorong oleh anak, sehingga anak terjatuh. Sebelum membeli permainan anak, identifikasi fase perkembangan anak, pilihkan mainan yang dapat digunakan untuk menstimulasi perkembangannya, pertimbangkan keamanan bahan baku, tidak mengandung bagian-bagian yang mudah terlepas dan tertelan oleh anak, dampingi anak saat bermain.

Stimulasi adalah hal penting yang harus dilakukan dalam mencapai perkembangan yang optimal.  Orang tua harus selalu mencari tahu, pada tahapan yang mana, perkembangan anak sedang berada sehingga dapat memilih permainan yang tepat bagi buah hati.

 

dr. Hani Purnamasari, MsiMed, SpA


Sangat baik jika orang tua ingin memperkenalkan balitanya untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Sebaiknya anak diperkenalkan secara bertahap, sesuai kemampuan anak. Mungkin bisa di mulai dengan menahan makan secara bebas di muka umum, kemudian di minta berpuasa sekuat anak. Jika anak lapar, diperkenankan untuk makan dan setelahnya melanjutkan puasa lagi. Dilakukan bertahap, hingga akhirnya anak dapat tahan berpuasa hingga sehari penuh.

Perkenalkan juga konsep makan sahur. Apabila anak belum bisa dibangunkan untuk makan sahur sesuai jam seharusnya, dapat disesuaikan dengan kemampuan anak. Saat makan sahur dan berbuka, jangan biarkan anak hanya makan satu jenis makanan. Gizi seimbang harus tetap menjadi pertimbangan, yaitu mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan cukup air minum. Kudapan dengan kalori tinggi, misalnya roti isi, dapat menjadi pilihan bila anak tidak menghendaki makan nasi saat sahur dan berbuka.

Selamat mencoba, semoga sukses membimbing putra-putrinya untuk berpuasa.


 

 

 

 

 

 

 

 

dr. Hani Purnamasari, MsiMed, SpA

 

Asam folat termasuk kedalam kelompok vitamin B kompleks (vitamin B9) dan disebut juga folacine, yang pertama kali ditemukan pada daun bayam. Asam folat terdapat dalam hampir setiap makanan, terutama daun hijau segar, hati, ragi, jeruk, buncis, kentang, dan cereal.

Tubuh memerlukan asam folat 50 mcg/hari. Pada keadaan infeksi, kehamilan, laktasi/menyusui, anemia hemolitik, serta tumor ganas, kebutuhan asam folat meningkat sampai 300 – 400 mcg/hari, bahkan lebih.

Kekurangan asam folat pada kehamilan akan menyebabkan neural tube defect atau kecacatan pada otak dan sumsum tulang belakang janin yang pembentukannya terjadi pada minggu ke-3 sampai minggu ke-4 kehamilan. Asam folat juga bermanfaat untuk produksi sel darah merah sehingga mencegah anemia megaloblastik. Selain itu konsumsi asam folat yang cukup juga mencegah penyakit cardiovaskuler, alzheimer, osteoporosis, stroke, dan beberapa jenis kanker.

Asam folat penting pada perkembangan DNA yang akan membawa informasi genetik untuk perkembangan setiap sel tubuh  pada awal perkembangan janin terutama pada 12 minggu pertama kehamilan. Asam folat sebaiknya tidak diminum dengan air panas karena mudah rusak. Memasak sayuran jangan terlalu matang agar tidak merusak kandungan asam folat didalamnya.

Pada fase awal pertumbuhan dari janin, sintesa asam nukleat dan protein berada pada periode puncak, karena itu kebutuhan ibu meningkat secara cepat. Jika asam folat tidak cukup maka sintesa asam nukleat akan dihambat dan sel tidak sanggup membentuk DNA sehingga terjadi gangguan proses metilasi protein, lemak dan myelin (selubung saraf), serta penimbunan homosistein.

Kekurangan asam folat juga dapat menyebabkan antara lain homocysteinemia, graying of hair, anemia, NTD, fatigue, insomnia, memory problems/dementia, depression, apathy, dan terosklerosis.

Penutupan tabung saraf pada janin berlangsung pada 4 minggu pertama kehamilan, dan keadaan hamil ini sering tidak/belum disadari, oleh karena itu sangatlah penting bagi seorang wanita untuk mengkonsumsi asam folat sebelum terjadinya kehamilan.


dr. Lilia Mufida, SpOG

VISI
Kemang Medical Care akan menjadi penyedia layanan kesehatan prima bagi wanita dan anak di Indonesia.

MISI
Kemang Medical Care akan memberikan layanan kesehatan yang holistik bagi wanita dan anak di Indonesia.

RSIA Kemang

Jl. Ampera Raya No.34

Jakarta Selatan 12550

Phone : (+6221) 27545454 / 27545400

Fax : (+6221) 78843548

Email : info@kemangmedicalcare.com

Print